Thursday, March 18, 2010

EKSPEDISI MERAPI


Pagi yang dingin membangunkanku dari lelap tidurku, kubangunkan badanku dari slipingbad warna biru usang yang selalu aku bawa jika aku berpetualang. Aku tersadar kalau aku sedang didalam tenda bersama teman-temanku lima orang, mereka semua masih pada tertidur pulas mungkin karena mereka kecapean saat harus naik turun bukit untuk sampai disini. Akupun keluar dari dalam tenda sesekali mataku memandang kedepan aku terfana dengan apa yang ada dihadapan mataku. Kulihat kabut putih yang masih bersih mengelilingi suatu bukit yang tinggi, dan aku tau bahwa itu adalah gunung merbabu yang sudah pernah aku daki dulu.
kabut putih seperti selimut bagi merbabu, pepohonan yang masih hijau alami, tetesan embun pagi yang jernih dan hembusan angin yang sepoi-sepoi menambah damainya perasaan didalam hatiku. Aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah menciptakan tempat dan suasana yang sangat indah seperti ini. Kesempatan pagi inipun tidak aku sia-siakan untuk mengabadikannya dalam sebuah foto, rasa lelah, rasa dinginpun terbayarkan dengan semua keindahan yang ada diatas merapai. Tak lama kemudian teman-temankupun bangun dan keluar dari dalam tenda wajah-wajah yang masih banyak inguspun menjadi bahan publikasiku, ingin rasanya pagi ini aku tertawa melihat ekpresi wajah mereka…wkwkwkwwkkkwkwkw


Tak kusadari tenyata selama ini masih ada tempat-tempat yang sangat indah seperti ini, yang tidak bisa kita temui di bawah sana.kita tidak akan pernah merasakan suasana seperti ini kalau kita belum pernah mencoba untuk mendakinya. Jauh dari kebisingan dan jauh dari debu-debu kenalpot kendaraan bermotor. Memang tidak begitu mudah untuk kita dapat sampai keatas, kita harus mendaki tanjakan-tanjkan dan tebing-tebing yang sangat licin, untuk melewatinya harus dengan ekstra hati-hati, kalau kita sampai kita terpeleset dan jatuh kejurang nggak tau lagi bagaimana ceritanya. selain itu hawa dingin pegunungan yang sangat menusuk sangat mempengaruhi stamina kita saat mendaki kalau kita nggak bisa menahan hawa dingin tersebut bisa-bisa kita hipotermia seperti apa yang pernah dialami temenku didi bozenk, dia terkena hipotermia saat dia terbangun dari tidurnya diatas batu gunung yang besar. Memang sangat menarik untuk dibuat tidur batu tersebut postur batu yang datar dan besar serasa seperti tempat tidur pribadi dirumah. Ternyata apa yang diharapkan bisa tidur dengan nyaman, nyenyak tidak bisa dirasakan saat terbangun dari tidur yang didapat hanya rasa tubuh yang sudah dingin seperti sudah nggak bisa digerakan semua organ-organ tubuhnya. Kasian bener apa yang dialami temenku. Dan mulai sejak itu setiap mendaki dia sudah tidak pernah tidur yang ada dia hanya nungguin kita-kita yang tertidur pulas didalam tenda. idep-idep dadi satpam cah (celoteh dia sambil nyengir).

0 komentar: